Selasa, 14 November 2017

Ternyata Penyebab Jerawat Bisa Diketahui dari Letaknya di Wajah!

 Ternyata Penyebab Jerawat Bisa Diketahui dari Letaknya di Wajah!
Ketika mendengar kata jerawat pasti yang terlintas adalah benjolan kecil di wajah yang membuat penampilan kurang mempesona lagi. Jerawat telah menjadi sesuatu yang menjengkelkan bagi sebagian orang terutama bagi para perempuan. Apalagi kalau jerawat itu tak kunjung hilang, malah sering muncul kembali. Hal yang perlu diperhatikan adalah letak tumbuhnya jerawat karena itu berhubungan dengan penyebab jerawat tersebut. Jika sudah begitu jerawat akan lebih mudah diatasi.

1. Jerawat di dahi.

Jerawat di dahi berhubungan dengan sistem pencernaan. Jika jerawatmu muncul di dahi berarti kamu harus memperhatikan pencernaanmu. Memperhatikan makanan yang kamu makanan adalah cara mengatasinya. Kurangi makanan olahan seperti junk food yang banyak mengandung lemak dan minum air putih yang banyak. Selain itu makanan yang pedas dan minuman bersoda juga harus kamu hindari.

2. Jerawat di pelipis dan sekitar telinga.

Kalau jerawat yang muncul di pelipis dan sekitar telinga adalah berhubungan dengan kesehatan ginjal. Kamu harus banyak minum air putih untuk mengatasinya. Selain itu untuk membuat kesehatan lambung kamu pulih, kamu bisa mengkonsumsi bawang putih, paprika merah, kecambah, kubis dan apel.

3. Jerawat di hidung.

Jerawat yang muncul di hidung berhubungan erat dengan jantung lho. Seperti diketahui bahwa jantung adalah salah satu organ paling penting dalam tubuh kita. Munculnya jerawat di hidung mengindikasikan kesehatan jantung kamu. Cara mengatasinya adalah kamu harus rajin olahraga minimal dengan jogging di pagi hari dan jangan lupa untuk menikmati udara segar. Makanan yang harus dikonsumsi adalah makanan yang banyak mengandung lemak baik seperti omega-3 dan omega-6.

4. Jerawat di pipi.

Jika di pipimu muncul jerawat berarti sistem pernapasanmu sedang tidak baik. Cara mengatasinya adalah tentu dengan memperhatikan udara yang kamu hirup. Hindari terlalu lama di lingkungan yang sirkulasi udaranya kotor, carilah udara yang segar. Terkait makanan kamu harus menghindari makanan yang membuat tubuh menjadi asam seperti daging, susu, alcohol, dan kafein. Selain itu hindari juga makanan yang membuat tubuh terlalu panas dengan memakan makanan yang sifatnya dingin seperti melon dan mentimun.

5. Jerawat di dagu.

Jerawat di dagu berkaitan dengan stress dan perubahan hormonal. Biasanya bagi perempuan ketika mengalami menstruasi, kehamilan dan remaja yang sedang masa puber. Perubahan hormonal ini harus diikuti dengan manajemen stress yang baik. Salah satu caranya dengan tidur yang cukup, banyak minum air putih dan mengkonsumsi sayuran hijau.

6. Jerawat di leher.

Jerawat di leher adalah sebuah pertanda bahwa tubuh kamu sedang melawan bakteri jahat untuk menghindari penyakit. Oleh sebab itu, cara untuk mengatasinya adalah dengan istirahat yang cukup, latihan pernapasan dan minum banyak air.

Ternyata munculnya jerawat berhubungan erat dengan kesehatan tubuh. Maka jaga kesehatan supaya jerawat bisa jauh ya.


Sumber idntimes

Sabtu, 11 November 2017

Pengen Kuat dan Tetap Sehat Saat Begadang? Nih 6 Triknya

 Pengen Kuat dan Tetap Sehat Saat Begadang? Nih 6 Triknya
Banyak pekerjaan, entah itu tugas kantor atau skripsimu yang gak kelar-kelar otomatis memicumu untuk tetap fokus hingga larut malam. Walaupun memang sudah diketahui bahwa begadang itu bukanlah hal yang baik. Nah kalau udah begini, tubuh jadi mudah lelah dan gampang sakit. Sebelum sakit-sakitan mengganggumu, lebih baik lakukan hal ini agar tubuh tetap fit.

1. Konsumsi Makanan yang Bergizi.

Kamu harus selalu ingat untuk mengonsumsi makanan dengan kandungan gizi yang cukup untuk tubuh dan juga dijaga kebersihannya agar kesehatanmu tetap optimal. Hindari junkfood dan perhatikan juga jadwal makanmu.

2. Atur Jadwal Tidurmu yang Konsisten.

Waktu tidur yang berantakan akan mengakibatkan terganggunya ritme biologismu, serta menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan hormon. Akhirnya tubuh rentan terserang berbagai masalah kesehatan. Maka kamu harus bisa mengatur jam tidurmu dengan baik dan konsisten.

Misalnya di pagi hari kamu tidur 3-4 jam. Kemudian dilanjutkan tidur lagi di siang hari beberapa jam. Sehingga total kamu dapat tidur 6-8 jam dalam sehari. Dan yang terpenting, harus berkualitas ya!

3. Rajin Olahraga.

Manfaatkan waktu luangmu dengan berolahraga, sehingga tubuh dapat terus fit walaupun dalam kondisi begadang. Olahraga akan meningkatkan daya tahan tubuh dan mengurangi risiko terkena penyakit. Kamu bisa jogging, renang, push-up, sit-up atau berbagai macam jenis olahraga lainnya.


4. Pastikan Kamu Mendapat Sinar Matahari yang Cukup.

Cara termudah agar tubuh kembali terisi dengan vitamin adalah menikmati paparan sinar matahari pagi agar asupan vitamin D terpenuhi. Kamu bisa jalan-jalan keluar atau sekadar duduk di jendela selama setengah hingga satu jam. Ini bisa membantu kamu mencegah depresi dan ketidakseimbangan hormon lho!

5. Hindari Minuman Penambah Energi.

Dini hari merupakan saat tubuh melakukan detoksifikasi.Oleh karena itu hindari mengonsumsi minuman energi walaupun membantu kamu untuk tetap terjaga karena akan memperberat kinerja ginjalmu. Coba ganti dengan minum air putih yang banyak dan madu, untuk menjaga metabolisme tubuh serta menambah energi.

6. Konsumsi Vitamin.

Begadang akan menurunkan daya tahan tubuh. Biasakan mengonsumsi vitamin untuk mengganti daya tahan tubuh yang hilang. Seperti vitamin C yang akan memperkebal daya tahan tubuh. Sehingga kamu bisa terhindar dari penyakit. Kamu juga bisa mengonsumsi vitamin D apabila kurang mendapatkan vitamin D alami dari cahaya matahari


sumber: idmtimes.com

Jumat, 10 November 2017

Ingin Awet Muda? Ikutin 4 Tips dari Titiek Puspa Ini Yuk

Ingin Awet Muda? Ikutin 4 Tips dari Titiek Puspa Ini Yuk
Aktris tiga zaman Titiek Puspa beberapa hari lalu berulang tahun ke-80 tahun. Meski begitu, aktris kelahiran Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan, Titiek Puspa masih segar bugar. Tidak hanya sehat fisik, tetapi aura wajahnya juga terpancar bahagia.

Nah, kita semua pasti penasaran. Meski sudah berusia kepala 8 tapi Titiek Puspa masih tampak sehat dan bugar. Kira-kira apa ya rahasianya?

1. Meditasi di pagi hari.

Musikus kelahiran 1 November 1937 ini rajin melakukan meditasi, utamanya di pagi hari sembari ‘berjemur’. Sebelum melakukan meditasi, ia melakukan pemanasan (streching) ringan dengan menggerakkan kepala. Titiek Puspa mengaku melakukannya dua kali sehari selama satu jam.

2. Enjoy your life.

Aktris senior yang telah menghasilkan puluhan album ini juga menekankan pentingnya mensyukuri hidup. Dengan hidup bersyukur, maka muncul kemauan untuk mengatur hidup as good as possible. Dari mulai pola hidup sehat dan pola bekerja yang sehat. Menurutnya, hal itu penting agar kita tidak menjadi sakit-sakitan.
Dengan bersyukur pulaTitiek Puspa bisa menghindari stres. Dia mengatakan kalau dirinya merupakan sosok yang selalu legowo (bahasa Jawa), jika tidak bisa jangan dipaksa tetapi bukan berarti malas tanpa usaha.
Bersyukur juga memuat hidup jadi gembira. Titiek Puspa merupakan orang yang jarang emosi atau marah-marah.

3. Minum air putih secara teratur.

Selain rutin melakukan meditasi dan menikmati hidup, rahasia awet sehat eyang Titiek adalah dengan meminum air putih secara teratur. Titiek Puspa lebih menyukai meminum air putih ketimbang minum teh ataupun kopi. Jadi, ayo dibiasakan untuk rajin meminum air putih.

4. Konsumsi sayur dan buah setiap hari.

Ada banyak penelitian yang menyebutkan bahwa mengonsumsi sayur dan buah-buahan, memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Nah, Titiek Puspa juga rajin mengonsumsi sayur dan buah. Makanya, hingga kini di usianya yang sudah 80 tahun, Eyang Titiek masih terlihat segar dan sehat.

Sumber: idntimes

Rabu, 30 November 2016

Arti Sebuah Nama

Penulis :Karim Suryadi (Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia)

NAMA bukan hanya deretan huruf. Meski Shakespeare pernah bilang bunga mawar akan tetap harum meski diberi nama lain, bagi kebanyakan orang dan bangsa, nama tidak diberikan secara sembarangan. 
Bagi Muslim, nama diyakini sebagai doa, identitas diri, penanda "kesadaran teologis", sekaligus pujian terhadap agama, perhiasan, dan syiar, yang dengannya seseorang akan dipanggil di dunia dan diseru akhirat. Demikian pula bagi orang Jepang, nama adalah harapan (kibo). Tak heran, orang tua di Jepang melekatkan unsur kuat, sehat, dan pintar pada nama anak laki-laki, sedangkan indah, cahaya, dan cerdas pada anak perempuan.
Setiap peristiwa selalu terhubung dengan nama. Bahkan sebagai pencipta kedua, manusialah pencetus peristiwa. Bila disebut dalam peristiwa atau tindakan yang baik, nama pelaku akan turut terbawa harum. Namun bila nama seseorang dikaitkan dengan peristiwa buruk, atau perbuatan salah, pasti namanya turut tercemar.
Itulah sebabnya, hukum melindungi nama yang diduga terlibat tindak pidana namun belum terbukti bersalah menurut keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap dengan asas praduga tak bersalah (presumption of innocence). Orang yang diduga bersalah harus dianggap tidak bersalah sampai pengadilan membuktikan kesalahannya. Atas dugaan itu, penulisan nama terduga cukup dengan inisial.
Belakangan, asas ini kerap dilangkahi. Media yang memberitakan dugaan tindak pidana menuliskan nama terduga dengan nama jelas. Publik pun mengikutinya. Karena sudah menjadi pengetahuan umum, publik merasa tidak melanggar hukum ketika menuturkannya, bahkan berbagi pesan tentang dugaan pidana secara telanjang.
Kini penyebutan nama tersangka dalam berita, atau kisah faktual, tak ubahnya penulisan tokoh dalam fiksi. Namanya tidak ditulis inisial, melainkan dicantumkan secara jelas dan lengkap. Ironisnya, alih-alih memperlihatkan empati yang mendalam atas sanksi pidana yang mengancam terduga, dan dampak buruk yang mungkin dialami, banyak pihak menuturkan kisahnya secara emosional.
Tidak jelas mana pihak yang bersalah. Di tengah ruang publik yang kian keruh, mencari secercah cahaya kebenaran sama sulitnya dengan menemukan setetes air dalam kolam yang berlumpur. 
Terlepas dari faktor personal jurnalis, ketatnya persaingan antarmedia membuat berita baik kurang diminati. Berita tentang peristiwa buruk lebih diburu, dan disediakan ruang pemberitaan yang cukup besar. Sebaliknya, bila jadi berita, kabar baik hanya akan jadi berita ringan, atau bahkan tidak jadi berita sama sekali.
Dilema jurnalis seperti ini mudah dipahami. Bila terlalu kritis atas sebuah peristiwa, seorang jurnalis bisa dituding memihak. Namun bila tidak kritis dan berusaha melaporkannya secara berimbang akan dituduh sebagai telah dibayar pihak tertentu.
Tentu saja kesalahan paling naif bila jurnalis mempraktikan apa yang oleh Bud Wacker (pernah bekerja sebagai editor untuk rubrik berita kota pada harian The News) sebagai cheek-to-chair journalism: jurnalisme yang hanya diam, duduk, dan tulis. Sebuah praktik yang disebut aktivis media kampus sebagai jurnalisme ludah, berita ngarang tanpa fakta, minus konfirmasi, hanya menggembalakan angan-angan dan prasangka.
Bukan maksud tulisan ini menolak pemberitaan atas perisitiwa buruk. Bila pemberitaan tersebut diyakini dapat memperbaiki sistem (dan bukan menghancurkannya), ia akan menjadi pil pahit yang menyembuhkan. 
Namun yang menjadi konsen tulisan ini adalah pentingnya memperkuat kesantunan dalam penulisan dan penyebaran berita. Mengapa ini penting? Kesantunan sosial tidak ditemukan dalam wujud yang sudah jadi, melainkan harus dibangun lewat tindakan beradab.
Apa yang dikatakan Richard Benedetto, yang hampir dua puluh tahun berkerja sebagai jurnalis pada USA Today, adalah benar bahwa seorang jurnalis bisa tidak setuju tanpa harus bersikap kasar; boleh kritis namun tidak boleh tidak sopan; dan dapat menunjukan kesalahan tanpa sinisme, maksud jahat, dan tidak bersenang-senang atas nasib yang akan diderita pelaku.
Dalam banyak kasus, martabat seseorang akan terjaga, apabila ia menghentikan cara-cara tidak sopan dalam mengungkap kasus. Tentu saja kita percaya, perlunya hukuman bagi orang yang bersalah (al-‘asha liman ‘ashu). Namun bila kata tidak lagi memberikan kebaikan, maka retorika yang paling terpuji adalah diam (ahmadu albalaghoti alshumtu hina la yuhsinu alkalam).
Sebuah nama tidaklah hampa. Setiap nama punya cerita, yang hanya mengenal kata mulai. Kedalamnya bukan hanya ditiupkan harapan dan doa, tetapi juga dilekatkan kehormatan. Nasihat Tony Vella, manajer editor pada Utica (NY) Observer-Dispatch, berlaku bukan hanya bagi jurnalis, tapi bagi siapa pun yang suka mengutip nama dalam ceritanya: "Ingatlah akan satu hal, setiap nama yang Anda ketik dalam suatu cerita adalah nyata. Nama itu melekat pada kehidupannya".
Bila nama adalah emas, maka nama baik adalah karatnya. Karat yang sudah luntur tidak bisa dikembalikan, sama seperti nama yang sudah tercoreng tidak bisa dipulihkan. Bahkan kata maaf dan ralat sekalipun tidak bisa menghapuskan noda bekas tuduhan, sebab tuduhan yang sudah dilontarkan ibarat panah yang sudah dilepaskan dari busurnya: tidak bisa ditarik kembali (irreversible), dan tak mungkin dipulihkan sama seperti keadaan sebelum tuduhan tertuju pada batang hidung korban.

Lewat Media Sosial

Penulis:

Rahim Asyik (Pemimpin Redaksi HU Pikiran Rakyat)

SETIAP kali membahas media sosial, saya selalu teringat 1984, novel distopia karya George Orwell. Distopia adalah antonim dari utopia. Kamus daring bahasa Indonesia mengartikan utopia sebagai sistem sosial politik yang sempurna, yang hanya ada dalam khayalan dan tak mungkin diwujudkan.
Kamus yang sama memang belum mengakomodasi kata distopia. Kata itu dijelaskan Wikipedia secara harfiah sebagai tempat yang tidak baik. Distopia, masih kata Wikipedia, merupakan suatu komunitas atau masyarakat yang menakutkan dan tak didambakan. Kalau utopia adalah cetak biru masyarakat ideal nirkejahatan dan nirkemiskinan, distopia bercirikan dehumanisasi dan pemerintahan totaliter. Pendeknya, segala ihwal buruk yang lahir sebagai buntut dari kemerosotan nilai yang dahsyat dalam masyarakat.
Ciri-ciri distopia tergambar terang dalam novel fiksi sains klasik karya George Orwell itu. 1984 bercerita tentang sebuah negara di bawah kontrol tiran. Sistem yang dibuat memungkinkan seorang tetangga melaporkan kelakuan buruk tetangga lainnya. Bahkan seorang anak bisa melaporkan ayahnya atau sebaliknya dengan imbalan kenaikan pangkat bagi yang satunya dan hukuman mati bagi yang lainnya. Mirip-mirip rapor wargalah, kendati lebih ekstrem.
Lewat kamera tersembunyi yang dipasang di mana-mana, pemerintah mengontrol kelakuan warganya, termasuk perkataan dan ekspresinya. Pikiran bebas terlarang bahkan dipandang sebagai kejahatan besar. Maka sekali kamera merekam munculnya ekspresi ketidakpuasan dari warganya, si warga akan diinterogasi habis-habisan.
Untuk melegitimasi kekuasaannya, pemerintah tiran itu menyusun ulang sejarah. Caranya, koran lama ditulis kembali. Yang tidak sesuai isinya dengan garis kebijakan partai, direvisi. Koran aslinya lalu dimusnahkan. Dengan demikian, tak ada bukti bahwa pemerintah berbohong. Tugas semacam itu, misalnya, dilakukan oleh Winston Smith, pegawai Kementerian Kebenaran.
Di bawah pantauan kamera yang dipasang di mana-mana, warga tak leluasa bertindak. Soalnya, sedikit saja terlihat laku mencurigakan, masa depannya akan hancur berantakan. 
Dipantau semacam itu, warga semisal Winston Smith yang bak butiran debu jelas tak rela. Namun tak bisa apa. Satu-satunya pemberontakan yang bisa dilakukannya diungkapkan dalam mimpi atau di tengah hutan yang tak terjangkau kamera. Itu pun harus mengatur jadwal perjalanannya agar tak terlihat melenceng dari rutinitas hariannya.
Novel 1984 dipublikasikan pertama kali tahun 1949. Kalau 1984 adalah ramalan, maka ramalan Orwell meleset dalam dua hal. Pertama, pada tahun 1984, teknologi internet belum secanggih sekarang. Bahkan tak ada satu pemerintahan tiran pun yang memantau warganya dengan kamera sedemikian. Kedua, rakyat ternyata bukan cuma tak tersiksa dipantau pemerintah. Sebaliknya, rakyat malah rela membeli pulsa atau paket data untuk melaporkan aktivitas sehari-harinya.
Saat ini, hampir setiap orang dewasa di kota memegang telefon genggam berkamera di tangannya. Lewat akun surel, media sosial, dan aplikasinya, orang-orang menyerahkan dengan ikhlas data-data pribadinya kepada pemilik aplikasi yang entah punya kepentingan apa di belakangnya. Lewat WhatsApp, BlackBerry Messenger, Instagram, dan Path mereka melaporkan penampilannya, apa kesukaannya, dan di mana check-in. Lewat Twitter, Facebook, Line, dan blognya mereka mengemukakan pendapat dan isi pikirannya. Lewat Waze mereka menceritakan rute hariannya, relasi-relasinya, dan berkunjung ke mana saja. Dengan Google Earth bisa diketahui tempat yang dikunjungi itu dalam wujud tiga dimensi. Pendeknya, kepada para penyedia aplikasi rahasia diserahkan dan seluruh perikehidupan dipasrahkan.
Dengan data sedemikian lengkap, rasanya tak perlu lagi cara konvensional interogasi yang melelahkan atau turun ke lapangan memata-matai untuk mencari tahu seseorang. Untuk mencari tahu seseorang, cukup duduk di depan komputer dan merekap semua informasinya yang sudah secara sukarela diserahkan. Dengan data itu, orang jahat bisa mencegat targetnya di jalan anu pukul sekian kalau hendak mengeksekusinya dengan aman. 
Saya mungkin mengidap paranoia. Soalnya yang terjadi adalah, bukan rakyat yang dipantau, tapi dehumanisasi dan pemerintahan totaliter yang malah ditumbangkan rakyatnya lewat penggunaan media sosial. Tak sedikit pula pemerintah yang takut terhadap kekuatan media sosial sehingga memblokirnya.
Teknologi mungkin netral. Yang tidak netral adalah yang memanfaatkannya. Di seberang lautan sana bisa jadi ada yang mengumpulkan data spasial rakyat dan negara lain lewat keriangan orang menemukan Dragonair, Scyther, dan Jynx, makhluk dalam Pokémon Go. Siapa yang memedulikannya di seberang sini?***

 

Selasa, 15 November 2016

Kenapa Anda Gagal Berpikir secara Kreatif

 



















Dalam dunia yang serba bergegas dengan rancak ini, kecakapan creative thinking mungkin merupakan salah satu elemen krusial untuk meringkus tantangan masa depan dengan rapi.
Jika inovasi adalah oksigen, maka creative thinking skills harus selalu dihembuskan untuk memastikan roh inovasi itu tidak mati.
Di senin pagi yang cerah ini, kita akan mencoba berkelana menjelajah jagat kreativisme itu : tentang kenapa Anda gagal berpikir secara kreatif; dan juga tentang bagaimana cara yang paling jitu untuk mendongkrak your creative thinking skills.
Sebelum bicara lebih lanjut tentang cara mengembangkan creative thinking, pertama-tama kita mesti menjawab pertanyaan penting ini : yakni kenapa kita sering gagal berpikir secara kreatif.
Pola pikir secara vertikal adalah salah satu biang kenapa seseorang gagal membangun proses kerja yang kreatif. Vertical thinking adalah mencoba mendefinisikan permasalahan hanya dengan satu cara tanpa mempertimbangkan pandangan alternatif (pikirannya hanya bertumpu pada satu titik yang sempit).
Pola pikir vertical lantas membuat kita menjadi terlalu sempit dalam mendefinisikan batasan permasalahan. Orang-orang acap berasumsi sejumlah permasalahan atau solusi alternatif merupakan hal yang diluar batas mereka (atau dianggap tidak masuk akal), sehingga mereka mengabaikannya.
Penghambat kreativitas lainnya adalah ini : non-inquisitives. Ini adalah sikap enggan dan tidak terlatih untuk mengajukan pertanyaan. Acapkali orang tidak mampu mengatasi permasalahan secara kreatif karena malas mengajukan pertanyaan, atau tidak aktif menggali data dan informasi.
Non-inquisitives (tidak punya rasa ingin tahu yang tinggi) akhirnya membuat kita terpelanting dalam mode “non-thinking”. Atau sejenis kecenderungan untuk menghindari pekerjaan secara mental (berpikir keras).
Orang jadi enggan menyediakan waktu untuk “berpikir” : secara reflektif mengeksplorasi beragam alternatif solusi, dan juga cara-cara baru yang mungkin berguna untuk menciptakan something innovative.
Vertical thinking, rasa curiosity yang rendah, dan keengganan untuk berpikir secara eksploratif adalah beragam elemen yang membuat seseorang menjadi tidak kreatif.
Setelah melacak beberapa faktor yang sering meng-kudeta proses berpikir kreatif, maka kini kita coba lihat dua kiat ampuh yang layak dilakukan to drive your creativity.
Kiat # 1 : Attribute Listing. Metode ini layak digunakan apabila kita mendapati situasi yang dapat di-breakdown menjadi serangkaian atribut.
Uraikan isu atau masalah yang tengah didiskusikan ke dalam sebanyak mungkin atribut. Kita bisa juga memetakan masalah dalam sejumlah kategori utama, dan kemudian mem-breakdown setiap kategori itu ke dalam sejumlah atribut.
Untuk setiap atribut tanyakan ‘apa yang diberikannya?’ Gali nilai atau value dari setiap atribut. Terdapat kemungkinan sebuah atribut memberikan value yang positif ataupun bersifat negatif. Tugas kita adalah mengeksplorasi setiap value dalam atribut, memodifikasinya secara kreatif, dan menemukan value terbaik dalam setiap atribut.
Kiat #2 : Visioning. Ini adalah sejenis lelakon untuk membayangkan masa depan yang brilian dan inovatif. Atau mencoba berpikir secara imajinatif mengenai apa yang Anda ingin raih di masa mendatang.
Ketika mengimajinasikan gambaran masa depan, gunakan kata-kata yang dinamis dan penuh perasaan.
Gunakan pula kata-kata “present tense” (misal : karya saya dinikmati banyak orang) bukan “future tense” (karya saya akan dinikmati banyak orang). Ungkapan dalam bentuk present tense akan membuat gambaran imajinasi itu menjadi terasa lebih “dekat”.
Visioning menjadi efektif karena kita adalah spesies yang penuh daya khayal/imajinatif, dan sangat termotivasi dengan apa yang kita rasakan sebagai kemungkinan masa depan.
Saya tidak tahu apakah Anda termasuk kategori creative people atau tidak. Atau apakah Anda kadang terjebak pada vertical thinking, non-inquisitives dan non-thinking atau selalu bisa menghindarinya.
Renungkan artikel ini, dan renungkan kapan terakhir kali Anda melakukan “sesuatu yang kreatif”.
Selamat bekerja, teman-teman. Be creative. Be innovative. Because your creativity will determine your future life. 

sumber:strategimanajemen.net

Apa Sasaran Masa Depan Hidup Anda? Inilah Contoh Life Goals yang Inspiring

free-rock-climber
Banyak orang di dunia ini yang memiliki impian untuk memiliki prestasi atau sesuatu yang berharga baginya tapi hanya sedikit yang berhasil dari mereka yang bisa mewujudkan mimpinya tersebut.
Sebagian besar masih hanya “berkhayal” dan menjalani hidupnya apa adanya dan begitu monoton bin garing bin membosankan.
Faktanya, lebih dari 70% orang (atau 7 diantara 10 orang) yang gagal dalam meraih impiannya.
Kenapa begitu? Kenapa masa depan tampak begitu muram bagi mayoritas orang?
Salah satu pemicunya karena kita lupa merumuskan life goals yang jelas dan cetar membahana.
Dalam paparan kali ini, kita akan mencoba melacak pentingnya menyusun life goals yang jelas. Lalu dalam bagian akhir tulisan ini, juga akan diuraikan contoh riil tentang goals yang spesifik.
#Goal akan mendayagunakan kemampuan
Seperti halnya impian yang mampu membangunkan raksasa tidur yang ada di dalam diri kita, goal akan terus mendayagunakan segenap kemampuan yang diperlukan untuk mencapai apa yang kita inginkan.
Dengan adanya goal, kita bisa membikin hidup kita lebih hidup.
Goal adalah bensin motivasi kenapa kita hidup di dunia ini, yang bisa terus mendorong kita untuk mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik demi mencapainya.
Pribadi yang memiliki goal yang jelas akan menjelma menjadi sosok yang kompeten dan unggul dibandingkan pribadi yang hanyut terbawa oleh rutinitas tanpa tahu goals dalam hidupnya.
#Goal membuat kita tetap termotivasi dalam hidup
Banyak dari kita yang menjadi termotivasi setelah mengikuti seminar, membaca buku, atau mendengarkan cermah yang memotivasi hidup kita.
Namun, seiring berlajalannya waktu, motivasi itu menguap laksana embun pagi menjelang mentari bersinar cerah.
Penguap dari motivasi mereka adalah karena mungkin kita tidak memiliki goal agung nan mulia dan spesifik.
Goal berfungsi untuk menyetel kembali motivasi yang sudah melemah dalam hidup Anda.
Jika Anda memiliki goal yang mulia dan dalam kondisi jenuh, maka ingatlah kembali goal mulia Anda, dan bayangkan dengan detail serta melibatkan segenap emosi, lalu lakukanlah gerakan aktif (loncat-loncat, misalnya) maka itu akan membuat Anda menjadi lebih bersemangat.
Sebab tubuh yang aktif bergerak, akan membuat sel otak bisa mekar.
Sebaliknya, terlalu banyak duduk akan membuat ragamu jenuh dan bosan dengan hidup. Apalagi jika Anda tidak punya impian hidup yang layak diperjuangkan.
#Goal membuat apa yang kita pelajari bisa dipraktikkan
Di era online ini, tidak susah untuk menemukan beragam ilmu dan informasi. Pasokan informasi begitu melimpah. Dengan mudah Anda menyimpan ribuan keping informasi itu dalam otak Anda.
Sayangnya, ribuan keping ilmu dan informasai yang menumpuk dalam otak kita, acap tidak dipraktikkan dengan konsisten atau bahkan tidak sama sekali.
Apa sih yang membuat segudang ilmu dan informasi itu tidak dipraktikkan dengan baik? Karena kebanyakan orang tidak memiliki goal yang jelas.
Goal yang jelas membantu kita untuk mempraktikkan ilmu apa saja yang perlu untuk dilakukan.
Kesalahan yang dianut oleh kebanyakan orang adalah mencari ilmu terlebih dahulu sebelum menetapkan goal.
Sekali Lagi. Wahai bagi Anda yang masih terhanyut dalam era informasi yang overload, tetapkanlah dulu goal Anda dan baru tentukan apa yang harus Anda pelajari. Dan praktekkan.
#Goal akan membuat Anda terfokus untuk mempelajari ilmu
Dengan adanya goal yang sudah ditetapkan terlebih dahulu, kita pasti akan mengetahui secara spesifik apa yang harus kita pelajari dan akan merasa bergairah untuk terus mempelajari hal tersebut.
Tidak semua ilmu dan informasi mesti kita kunyah. Kita hanya perlu mempelajari ilmu dan informasi yang kita perlukan dan relevan dengan goals kita.
Ilmu yang sesuai dengan goal kita. Ilmu yang akan amat membantu kita meraih goals yang sudah dicanangkan.
Dengan cara seperti itu, kita tidak banyak membuang waktu untuk menikmati lautan informasi online yang kebanyakan tidak relevan dengan masa depan goals kita.
Berikut goals yang spesifik (silahkan ditiru) :
Dalam 3 tahun ke depan saya bisa mendapatkan income ……………… (sorry, rahasia) dari bisnis online yang saya jalankan.
Jika goals ini tercapai, saya berkehendak untuk melakukan kegiatan memajukan peradaban antara lain seperti ………….
Agar goals itu tercapai, maka saya mem-breakdown menjadi rincian goals sbb :
– Dalam 2 tahun, pengunjung blog/website onlineharus tembus 10.000 visitors per hari.
– Saya perlu terus secara konsisten update content blog/website seminggu dua kali dengan produk terbaru dan bernilai bagi para pelanggan.
– Aktif dan rajin membuat promo viral di Facebook/media sosial lainnya, minimal sebulan sekali.

DEMIKIAN goals saya dalam bidang blogging yang saya tekuni, dan saya jalani dengan sepenuh passion.
Karena goals yang spesifik dan jelas sudah disusun, maka selanjutnya adalah harus tahu ILMU apa yang perlu  pelajari.
kita tidak perlu membuang waktu untuk membaca informasi atau ilmu lain yang tidak relevan (yang banyak menggoda kita via social media dan online media).
selalu fokus waktu luang untuk mempelajari ilmu online dan internet marketing – sebab memang tema inilah yang paling relevan dengan goals di atas .
Goals yang spesifik seperti diatas membuat kita bisa terus termotivasi. Setiap hari kita selalu bergairah menjalani hidup untuk mengejar mimpi dan goals yang sudah kita patrikan diatas.
Oke, goals sudah dicanangkan. Mudah-mudahan Anda semua juga sudah punya goals spesifik (plus rincian small goals-nya).
Sekarang, tinggal take action. Just do it.
Sebab, mimpi tanpa aksi adalah ilusi.
Dan sebaliknya : aksi tanpa mimpi adalah anarki.


sumber: strategimanajemen.net