Rabu, 30 November 2016

Lewat Media Sosial

Penulis:

Rahim Asyik (Pemimpin Redaksi HU Pikiran Rakyat)

SETIAP kali membahas media sosial, saya selalu teringat 1984, novel distopia karya George Orwell. Distopia adalah antonim dari utopia. Kamus daring bahasa Indonesia mengartikan utopia sebagai sistem sosial politik yang sempurna, yang hanya ada dalam khayalan dan tak mungkin diwujudkan.
Kamus yang sama memang belum mengakomodasi kata distopia. Kata itu dijelaskan Wikipedia secara harfiah sebagai tempat yang tidak baik. Distopia, masih kata Wikipedia, merupakan suatu komunitas atau masyarakat yang menakutkan dan tak didambakan. Kalau utopia adalah cetak biru masyarakat ideal nirkejahatan dan nirkemiskinan, distopia bercirikan dehumanisasi dan pemerintahan totaliter. Pendeknya, segala ihwal buruk yang lahir sebagai buntut dari kemerosotan nilai yang dahsyat dalam masyarakat.
Ciri-ciri distopia tergambar terang dalam novel fiksi sains klasik karya George Orwell itu. 1984 bercerita tentang sebuah negara di bawah kontrol tiran. Sistem yang dibuat memungkinkan seorang tetangga melaporkan kelakuan buruk tetangga lainnya. Bahkan seorang anak bisa melaporkan ayahnya atau sebaliknya dengan imbalan kenaikan pangkat bagi yang satunya dan hukuman mati bagi yang lainnya. Mirip-mirip rapor wargalah, kendati lebih ekstrem.
Lewat kamera tersembunyi yang dipasang di mana-mana, pemerintah mengontrol kelakuan warganya, termasuk perkataan dan ekspresinya. Pikiran bebas terlarang bahkan dipandang sebagai kejahatan besar. Maka sekali kamera merekam munculnya ekspresi ketidakpuasan dari warganya, si warga akan diinterogasi habis-habisan.
Untuk melegitimasi kekuasaannya, pemerintah tiran itu menyusun ulang sejarah. Caranya, koran lama ditulis kembali. Yang tidak sesuai isinya dengan garis kebijakan partai, direvisi. Koran aslinya lalu dimusnahkan. Dengan demikian, tak ada bukti bahwa pemerintah berbohong. Tugas semacam itu, misalnya, dilakukan oleh Winston Smith, pegawai Kementerian Kebenaran.
Di bawah pantauan kamera yang dipasang di mana-mana, warga tak leluasa bertindak. Soalnya, sedikit saja terlihat laku mencurigakan, masa depannya akan hancur berantakan. 
Dipantau semacam itu, warga semisal Winston Smith yang bak butiran debu jelas tak rela. Namun tak bisa apa. Satu-satunya pemberontakan yang bisa dilakukannya diungkapkan dalam mimpi atau di tengah hutan yang tak terjangkau kamera. Itu pun harus mengatur jadwal perjalanannya agar tak terlihat melenceng dari rutinitas hariannya.
Novel 1984 dipublikasikan pertama kali tahun 1949. Kalau 1984 adalah ramalan, maka ramalan Orwell meleset dalam dua hal. Pertama, pada tahun 1984, teknologi internet belum secanggih sekarang. Bahkan tak ada satu pemerintahan tiran pun yang memantau warganya dengan kamera sedemikian. Kedua, rakyat ternyata bukan cuma tak tersiksa dipantau pemerintah. Sebaliknya, rakyat malah rela membeli pulsa atau paket data untuk melaporkan aktivitas sehari-harinya.
Saat ini, hampir setiap orang dewasa di kota memegang telefon genggam berkamera di tangannya. Lewat akun surel, media sosial, dan aplikasinya, orang-orang menyerahkan dengan ikhlas data-data pribadinya kepada pemilik aplikasi yang entah punya kepentingan apa di belakangnya. Lewat WhatsApp, BlackBerry Messenger, Instagram, dan Path mereka melaporkan penampilannya, apa kesukaannya, dan di mana check-in. Lewat Twitter, Facebook, Line, dan blognya mereka mengemukakan pendapat dan isi pikirannya. Lewat Waze mereka menceritakan rute hariannya, relasi-relasinya, dan berkunjung ke mana saja. Dengan Google Earth bisa diketahui tempat yang dikunjungi itu dalam wujud tiga dimensi. Pendeknya, kepada para penyedia aplikasi rahasia diserahkan dan seluruh perikehidupan dipasrahkan.
Dengan data sedemikian lengkap, rasanya tak perlu lagi cara konvensional interogasi yang melelahkan atau turun ke lapangan memata-matai untuk mencari tahu seseorang. Untuk mencari tahu seseorang, cukup duduk di depan komputer dan merekap semua informasinya yang sudah secara sukarela diserahkan. Dengan data itu, orang jahat bisa mencegat targetnya di jalan anu pukul sekian kalau hendak mengeksekusinya dengan aman. 
Saya mungkin mengidap paranoia. Soalnya yang terjadi adalah, bukan rakyat yang dipantau, tapi dehumanisasi dan pemerintahan totaliter yang malah ditumbangkan rakyatnya lewat penggunaan media sosial. Tak sedikit pula pemerintah yang takut terhadap kekuatan media sosial sehingga memblokirnya.
Teknologi mungkin netral. Yang tidak netral adalah yang memanfaatkannya. Di seberang lautan sana bisa jadi ada yang mengumpulkan data spasial rakyat dan negara lain lewat keriangan orang menemukan Dragonair, Scyther, dan Jynx, makhluk dalam Pokémon Go. Siapa yang memedulikannya di seberang sini?***

 

0 komentar:

Posting Komentar