Penulis:
Rahim Asyik (Pemimpin Redaksi HU Pikiran Rakyat)
SETIAP kali membahas media sosial, saya selalu teringat 1984,
novel distopia karya George Orwell. Distopia adalah antonim dari
utopia. Kamus daring bahasa Indonesia mengartikan utopia sebagai sistem
sosial politik yang sempurna, yang hanya ada dalam khayalan dan tak
mungkin diwujudkan.
Kamus yang sama memang belum mengakomodasi kata distopia. Kata itu
dijelaskan Wikipedia secara harfiah sebagai tempat yang tidak baik.
Distopia, masih kata Wikipedia, merupakan suatu komunitas atau
masyarakat yang menakutkan dan tak didambakan. Kalau utopia adalah cetak
biru masyarakat ideal nirkejahatan dan nirkemiskinan, distopia
bercirikan dehumanisasi dan pemerintahan totaliter. Pendeknya, segala
ihwal buruk yang lahir sebagai buntut dari kemerosotan nilai yang
dahsyat dalam masyarakat.
Ciri-ciri distopia tergambar terang dalam novel fiksi sains klasik karya George Orwell itu. 1984 bercerita
tentang sebuah negara di bawah kontrol tiran. Sistem yang dibuat
memungkinkan seorang tetangga melaporkan kelakuan buruk tetangga
lainnya. Bahkan seorang anak bisa melaporkan ayahnya atau sebaliknya
dengan imbalan kenaikan pangkat bagi yang satunya dan hukuman mati bagi
yang lainnya. Mirip-mirip rapor wargalah, kendati lebih ekstrem.
Lewat kamera tersembunyi yang dipasang di mana-mana, pemerintah
mengontrol kelakuan warganya, termasuk perkataan dan ekspresinya.
Pikiran bebas terlarang bahkan dipandang sebagai kejahatan besar. Maka
sekali kamera merekam munculnya ekspresi ketidakpuasan dari warganya, si
warga akan diinterogasi habis-habisan.
Untuk melegitimasi kekuasaannya, pemerintah tiran itu menyusun ulang
sejarah. Caranya, koran lama ditulis kembali. Yang tidak sesuai isinya
dengan garis kebijakan partai, direvisi. Koran aslinya lalu dimusnahkan.
Dengan demikian, tak ada bukti bahwa pemerintah berbohong. Tugas
semacam itu, misalnya, dilakukan oleh Winston Smith, pegawai Kementerian
Kebenaran.
Di bawah pantauan kamera yang dipasang di mana-mana, warga tak
leluasa bertindak. Soalnya, sedikit saja terlihat laku mencurigakan,
masa depannya akan hancur berantakan.
Dipantau semacam itu, warga semisal Winston Smith yang bak butiran
debu jelas tak rela. Namun tak bisa apa. Satu-satunya pemberontakan yang
bisa dilakukannya diungkapkan dalam mimpi atau di tengah hutan yang tak
terjangkau kamera. Itu pun harus mengatur jadwal perjalanannya agar tak
terlihat melenceng dari rutinitas hariannya.
Novel 1984 dipublikasikan pertama kali tahun 1949. Kalau 1984 adalah
ramalan, maka ramalan Orwell meleset dalam dua hal. Pertama, pada tahun
1984, teknologi internet belum secanggih sekarang. Bahkan tak ada satu
pemerintahan tiran pun yang memantau warganya dengan kamera sedemikian.
Kedua, rakyat ternyata bukan cuma tak tersiksa dipantau
pemerintah. Sebaliknya, rakyat malah rela membeli pulsa atau paket data
untuk melaporkan aktivitas sehari-harinya.
Saat ini, hampir setiap orang dewasa di kota memegang telefon genggam
berkamera di tangannya. Lewat akun surel, media sosial, dan
aplikasinya, orang-orang menyerahkan dengan ikhlas data-data pribadinya
kepada pemilik aplikasi yang entah punya kepentingan apa di belakangnya.
Lewat WhatsApp, BlackBerry Messenger, Instagram, dan Path mereka
melaporkan penampilannya, apa kesukaannya, dan di mana check-in. Lewat
Twitter, Facebook, Line, dan blognya mereka mengemukakan pendapat dan
isi pikirannya. Lewat Waze mereka menceritakan rute hariannya,
relasi-relasinya, dan berkunjung ke mana saja. Dengan Google Earth bisa
diketahui tempat yang dikunjungi itu dalam wujud tiga dimensi.
Pendeknya, kepada para penyedia aplikasi rahasia diserahkan dan seluruh
perikehidupan dipasrahkan.
Dengan data sedemikian lengkap, rasanya tak perlu lagi cara
konvensional interogasi yang melelahkan atau turun ke lapangan
memata-matai untuk mencari tahu seseorang. Untuk mencari tahu seseorang,
cukup duduk di depan komputer dan merekap semua informasinya yang sudah
secara sukarela diserahkan. Dengan data itu, orang jahat bisa mencegat
targetnya di jalan anu pukul sekian kalau hendak mengeksekusinya dengan
aman.
Saya mungkin mengidap paranoia. Soalnya yang terjadi adalah, bukan
rakyat yang dipantau, tapi dehumanisasi dan pemerintahan totaliter yang
malah ditumbangkan rakyatnya lewat penggunaan media sosial. Tak sedikit
pula pemerintah yang takut terhadap kekuatan media sosial sehingga
memblokirnya.
Teknologi mungkin netral. Yang tidak netral adalah yang
memanfaatkannya. Di seberang lautan sana bisa jadi ada yang mengumpulkan
data spasial rakyat dan negara lain lewat keriangan orang menemukan
Dragonair, Scyther, dan Jynx, makhluk dalam Pokémon Go. Siapa yang
memedulikannya di seberang sini?***







#ref-menu
0 komentar:
Posting Komentar